Standar Ganda

Kapan hari aku lihat ada pasangan baru di sebuah tayangan, tidak terlalu berminat sampai host-nya bertanya, “apa yang membuat kamu jatuh hati pada orang ini?”

“Karena dia baik sekali,” jawab sang wanita.

“Karena dia sering mengirim makanan, biasanya aku kerja sampai malam, dia order makanan online ke tempatku,” jawab sang pria.

Oke, di dunia juga banyak orang baik, di dunia juga banyak orang yang perhatian dan kemudian mau mengirim makanan jika diberi kesempatan. Lalu?

Alasan-alasan yang dilontarkan pasangan ini sangat relatif, menurutku. Aku jadi ingat diskusinya Cania Citta soal akal sistem 1 (hati) dan akal sistem 2 (akal) (berdasarkan buku Daniel Kahneman, kalian pasti tau lah). Akal sistem 1 akan berpikir dengan cepat, sementara akal sistem 2 sebaliknya. Untuk kesemua alasan di atas, they won’t work if you’re not the person.

Ada hal rumit yang mungkin akan susah sekali dijelaskan oleh akal sistem 1, kenapa kita bisa tertarik pada orang A, dan bukan orang B, padahal orang B bisa jadi 100x lebih baik, padahal orang A dan B melakukan hal yang sama. Kalau lah akal sistem 1 mau membela diri, dia akan bilang itu masalah kompatibilitas/ kecocokan/ chemistry/ frekuensi/ ketertarikan, dst. Ini juga didukung oleh tulisan dari School of Life yang aku baca, kurang lebih bunyinya ‘menelusuri keadaan emosional kita di masa lalu, kita tidak bisa tertarik pada sembarang orang,’ –yang kembali lagi, susah dijelaskan oleh akal sistem 1.

Bisa jadi tapi tidak selalu, kita akan cenderung mencari seseorang yang bisa membantu kita memenuhi kebutuhan-kebutuhan kita, yang mungkin sewaktu kecil, tidak/ kurang tercukupi. Kebutuhan yang aku maksud ini sejalan dengan teori hierarki kebutuhan Abraham Maslow (kecuali kebutuhan fisiologis): 

  • kebutuhan akan rasa aman
  • kebutuhan untuk dicintai dan disayangi
  • kebutuhan untuk dihargai
  • kebutuhan untuk aktualisasi diri

TAPI ada juga faktor lain seperti: badannya, rambutnya, raut muka/ cara senyumnya, aura positifnya, dll, yang tidak harus sempurna, tapi menegaskan sekali lagi all things of a person won’t work for you if he/ she is not the right person your heart could recognize. Makanya aku bisa bersimpati pada kata-kata temanku, “orang baik dan orang baik belum tentu berada pada hubungan yang baik/ belum tentu bisa membina hubungan yang baik”, dan “aku kenal orang ini baru sebentar, tapi sewaktu kami ngobrol, kami seperti sudah kenal lama sekali.”

Alasan-alasan di atas menurutku adalah bentuk dukungan akal sistem 2 yang ikut merayakan euforia akhirnya bertemu dengan orang kompatibel yang dicari selama ini. Tidak ada yang salah, karena mereka yang merasakan. Aku hanya mengajak pikiranku untuk berdiskusi.


Ini semua mengingatkanku pada cerita fiktif ‘Rara dan pikiran sebelum tidurnya’.

Rara adalah seorang penggemar musik klasik dan folk/ indie. Selama dia hidup, dia kesulitan mencari teman dekat yang bisa diajak diskusi soal ini karena orang-orang di sekelilingnya tidak paham. Orang-orang di sekelilingnya hanya penyuka musik genre pasaran.

Suatu hari Rara punya kesempatan ikut sebuah orkestra. Lagu-lagu yang dimainkan adalah lagu-lagu klasik dari Jerman, Prancis, dan Estonia. Dia bilang pada dirinya, akan sangat menyenangkan jika punya teman dekat yang suka musik seperti ini juga, setidaknya tidak tidur saat dia konser. Hal itu dikatakannya setelah berdiskusi panjang dengan akal sistem 2-nya secara sadar.

Berkali-kali didekati orang, Rara menolaknya. Alasannya sederhana, orang-orang yang mendekati Rara tidak terlalu paham musik seperti itu dan berkata “aku pasti tidur lah kalau dengar musik klasik,” atau “wah, musiknya monoton.” Bersama dengan akal sistem 2-nya, Rara pikir itu adalah pertanda yang baik –sejalan dengan doanya pada Tuhan, “kalau memang orang ini tolong didekatkan, dst.”

Singkat cerita, Rara akhirnya dekat dengan seseorang karena walaupun kurang suka, orang yang bersangkutan mau (berlelah-lelah) mendengarkan lagu rekomendasi Rara. Orang itu datang juga ke konser Rara hari itu. Sayangnya, di konser Rara, orang itu tertidur hampir setengah pertunjukan. Sampai di sini kita berpikir, Rara pasti ilfeel dan menyudahi kedekatannya.

Nyatanya, Rara sadar fakta ini dan merasa itu bukan sebuah masalah besar, apalagi alasannya adalah pada hari itu, orang itu sedang sangat kelelahan (itu informasi yang kita sebut sebagai alasan, benar-benar alasan). Tidak dipungkiri, Rara memang bergulat lagi dengan akal sistem 1 dan sistem 2 di dalam pikirannya sendiri. Aneh sungguh aneh, akal sistem 1 yang menang. Dia bergeleng kebingungan dan menyimpulkan bahwa dia sama sekali tidak paham apa yang sedang dia rasakan, dia mungkin masih anak bawang.


Kalau dikembalikan lagi ke atas, tipe dan alasan orang jatuh hati itu relatif. 

My Instagram