Adulting #1

Having a box of seafood fried rice for dinner :)

Anggaplah judulnya Panadol Extra.

Hari itu sudah gelap. Satu hari audit berhasil dilalui, namun masih ada beberapa hari. Semua orang sepertinya memang sedang dalam keadaan tegang. Meski waktu sudah menunjukkan pukul 18.00 WIB, tidak seperti biasanya, orang-orang masih belum pulang untuk menyiapkan bahan fronting esok hari. Apapun, demi auditor puas sehingga tidak ada temuan major.

Karena sudah jelas sebagian besar dari kami akan pulang malam, ada tim yang berkeliling menanyakan mau dipesankan makan malam apa -tentu menunya sudah dikurasi menjadi hanya beberapa pilihan, dari satu restoran.

"Nasi goreng seafood!" aku menjawab lantang. Makan nasi goreng seafood sudah aku rencanakan sebagai hadiah untukku yang tabah dan tahan banting menghadapi audit kali ini, menjadi lebih senang ketika ada yang memberikannya cuma-cuma.

Tim lalu bergerak menghampiri temanku yang lain, dia menjawab, "Nggak usah, aku pulang kok." Aku mendengarnya dan menimpali spontan, "Wah keren sekali!" Di pikiranku, teman-teman yang bisa pulang cepat berarti mempunyai time management yang sangat baik, termasuk mengusahakan audit preparation yang sangat matang. Maksud dari komentarku ini adalah aku salut padanya -walaupun sebenarnya tidak perlu dijelaskan.

"Memang kenapa kalau aku pulang cepat? Anakku pasti sudah tidur kalau aku pulang malam!" Tiba-tiba terdengar nada tinggi dari ucapannya. Aku cukup kaget. Dia lantas pergi. Aku mengamatinya terus hingga hilang di kejauhan. Aku sungguh tidak mengambil hati ucapannya sama sekali, fokusku malah bergerak ke arah 'apa yang terjadi padanya'.

Teman-teman terdekatku berkata aku adalah seorang pengamat. Aku tak pernah terlalu mengamini sampai datanglah hari-hari di mana aku ternyata memang mengamati kelakuan temanku ini. Belakangan dia jadi berantakan dan lebih ketus dari sebelumnya. Aku tiba-tiba teringat kata temanku, Nago, "Ketika orang sedang berada di lowest point-nya, dia memang jadi lebih tidak peduli pada apapun di sekitarnya, apa yang dia kenakan, seberapa kotor lingkungannya, bahkan sampai ke apa yang dia ucapkan ke orang lain." Apa benar karena ini?

Aku heran sampai di umur sebanyak ini aku masih saja terlalu peduli pada orang lain, bahkan pada orang yang tidak peduli padaku/ mengindahkanku sama sekali.

Dari tempatku duduk, walaupun fokus utamaku adalah layar besar di depanku, beberapa kali aku bisa mengarahkan pandang ke temanku ini. Benar-benar hanya mengamati saja. Skill mengamatiku semakin baik sejauh ini, aku tidak pernah ketahuan jika sedang mengamati, hahaha.

"Ada yang punya Panadol Extra nggak? Kepalaku sakit banget." Aku seperti mendapatkan sebuah petunjuk. Belakangan, karena project pengamatan ini sudah kujadikan rutin selama beberapa hari, barulah aku tahu bahwa dia memiliki masalah cukup pelik yang kemudian membuatku memaklumi tindakannya beberapa hari yang lalu.

Ketika memutuskan untuk memaklumi, pikiranku, yang selama ini memang terbagi menjadi dua, mengajakku berdiskusi lebih dalam lagi.

"Lah, orangnya jahat kalau gitu! Dia membenarkan apa yang terjadi pada dirinya untuk melukai orang lain."

"Dia khan tidak sengaja/ tidak bermaksud."

"Tahu darimana? Dengan seperti itu, dia membuat keadaan di mana orang lain jadi tidak nyaman dan terganggu juga. Mungkin dia tidak senang orang lain jauh lebih baik kondisinya, makanya dia jatuhkan mental orang-orang di sekitarnya. Berarti nggak apa-apa orang kalau lagi ada masalah terus menyakiti orang lain?"

"Itulah gunanya adulting. Emosi yang dia rasakan itu valid, tapi kita tidak usah mengikuti perilaku seperti itu, itu bukan kita. Yang kita lakukan bukanlah membenarkan, tapi memaklumi. Kata Haemin Sunim, jika ada yang menyakitimu, itu bukanlah tentangmu, itu semata tentangnya."

"..."

"Mari kita doakan!"

***

Aku jauh lebih suka aku yang sekarang, aku yang self-awareness-nya berkembang lebih baik beberapa tahun terakhir ini. Aku tidak pernah marah, tidak pernah memasukkan omongan/ tindakan menyakitkan ke dalam hati, apalagi jika ada orang yang memperlakukanku tidak semestinya. Pikiran dewasaku selalu berkata, "dia sedang kenapa-napa, mari doakan." Pikiran dewasaku selalu mengajakku untuk memaklumi -karena ada banyak hal yang terjadi, karena tidak semua orang bertindak sesuai dengan norma yang kita anut dan anggap benar. Tidak ada jaminan kita tidak melakukan hal yang sama jika sedang ada di lowest points, tapi semoga tidak ya, Tuhan. Semoga saat itu aku tidak lupa berjarak dengan pikiranku sehingga aku bisa mengingatkannya, mencegah tindakanku masuk ke jurang (melukai).

My Instagram