Terbaca

Pertemuan dengan buku yang baik pun adalah sebuah intuisi.
Dari sekian banyak buku, tanganku berkali-kali menyentuhnya,
kakiku selalu kembali kepadanya,
walaupun aku sudah benar-benar tahu apa yang aku cari di ujung lain rak toko buku.
Perjalanan menjadi positif butuh waktu, dan buku ini sudah menjadi teman memulai.
Intuisi tak pernah salah.

Benda Favorit #2


Aku membeli tas berwarna oranye di Jogja dalam keadaan hujan deras. Sepertinya kecolongan karena benar saja, tas itu agaknya cukup sempit untuk aku yang setiap hari membawa laptop ke kampus. Tapi, namanya sudah terbeli, aku akan menjadikannya seberguna mungkin.

***

Benda Favorit #1

Dari dulu aku tidak punya barang branded, apalagi sepatu. Sepatuku biasanya murah sekali, tiga bulan sekali pasti sudah rusak. Entah bagaimana aku memakainya, pasti aku memang terlalu banyak jalan dan kurang memperhatikan kekuatan sepatu jika kubawa banyak berkeliling.

***

Award

Setahun yang lalu, aku melibatkan diri dalam kegiatan yang banyak memberiku insight bagaimana generasi Y dan Z itu berkarya. Tidak apa khan, kita memang perlu keluar dari zona nyaman agar bisa menyesuaikan diri, tidak selalu memaksakan ‘lebih baik zamanku’ dan peka terhadap perubahan. Setelahnya, beberapa di antara kami mencetuskan ide liburan beserta award panitia yang akan disematkan ke dalamnya.

Belajar, Mengerti

Ramai seperti biasa –ya kapan ruangan Kasie Administrasi dan Pelayanan Penduduk pernah sepi? Pernah, kalau Kasie-nya tidak ada di ruangan! Hari itu, antriannya empat, kuhitung lima denganku –sebelum seorang ibu dengan dandanan super maksimal itu menyerobotku dan tiba-tiba duduk.

Karma berjalan cepat, aku tetap dipanggil lebih dahulu oleh Ibu Kasie walaupun beliau tidak tahu urutan kedatangan kami. “Tan, Senin aja ke sini lagi ya. Atau Rabu..Kamis aja ya, seharusnya sih hari ini tapi dicoret lagi sama Kadinas.” Aku tersenyum mengangguk –hal yang sudah kuprediksi kesekian kalinya. “Nggak apa lah ya, ini khan demi kebaikanmu.” Kebaikanku? Yang mana? Pikiranku mulai berjalan mundur.

Desain

Bermain bersama adek-adek kecil itu tidak pernah tidak menyenangkan, tidak pernah mengecewakan. Itu sih perkara mindset dan satu lagi, senyuman tulus mereka. Mereka hampir selalu menyambut dengan hangat dan tanpa motif, tidak seperti sebagian orang dewasa.

Bandung, 31 Maret (Bapak yang Dikirim Tuhan #1) -part2

“Saya mau sekolah, Pak.”
“Itu niat baik bukan?”
“Baik, seharusnya...”
“Gini kalau mau tau sebuah niat itu baik atau tidak, rule-nya cuma satu. Niat baik itu tidak merugikan diri sendiri dan orang lain.
“Waaah!”
“Berarti niat mau sekolah itu baik atau tidak?”
“Baik, Pak! Baik sekali, karena tidak merugikan diri sendiri dan orang lain.”
“Good.”
“Tapi kenapa ada niat baik yang tidak kunjung terjadi atau malah gagal?”
Sebenarnya Tuhan nggak pernah nggak ngasih kalau memang itu niatnya baik. Kenapa belum mendapatkan atau malah gagal? Hmm, jawabannya ada dua.
Satu, berarti bukan itu! Itu bukan yang terbaik.
Dua, kamu ragu-ragu! Tau nggak? Kalau kamu bilang sesuatu ke semesta, itu bakal balik lagi ke kamu berkali-kali lipat. Bayangin kalau ragu?”
“...”
“Karena opsi satu di luar jangkauan kita –manusia, kita sudah seharusnya fokus ke opsi dua, di samping doa dan usaha. Kalau memang yakin niatnya baik, jangan ragu-ragu!”

Bandung, 31 Maret (Bapak yang Dikirim Tuhan #1)

Ayah mengabari teman SD-nya yang sudah lama tak ditemuinya, mungkin bisa sampai 40 tahun –kebetulan beliau tinggal dan mengajar di Bandung. Wajah sumringah keduanya saat bertemu tak bisa disembunyikan, aku bersyukur menyaksikannya.

Pak Wayan adalah seorang dosen teknik mesin, beliau sungguh bijaksana. Setidaknya itu kesan pertama yang kutangkap, yang kemudian berkembang menjadi lebih. Beliau banyak bertutur hal-hal positif, inspiratif, dan motivatif –perbincangan yang kusukai, aku mendengarkan seluruhnya dengan penuh perhatian. Entahlah, mungkin bisa dilihat dari mata. Mungkin kesemuanya didapatkan beliau kala membaca dan meditasi.

Kebaikan, Sederhana

Kebaikan itu bisa sangat sederhana, aku menyaksikan sendiri.

Bersyukur

Sebenarnya namaku Incha, tolong maafkan yang menulis,
dia yang seharian di toko kue hanya belum kenal aku XD
Apa hadiah terbaik yang bisa diberikan seorang anak dengan tanggal lahir 26 untuk dirinya sendiri di umur ke-26? Happy golden birthday! Ya, bagiku semua ulang tahunku spesial, semoga, dan setelah bergulat cukup lama dengan buku aneh itu, rasanya aku punya jawabannya.

FIKS-1.5

“Dia muncul lagi!”

FIKS-1

“Berhentilah mengganggu tidurku, aku mohon!”

Belum Ada Judul

Aku pernah sesekali dalam keadaan kalut, banyak pikiran. Selalu aku katakan pada diriku, jangan dipaksa hari ini, coba dibawa tidur saja, mungkin yang tidak terlalu penting akan mengendap menyisakan hal yang perlu dipikirkan. Dan ya, hampir selalu berhasil –ini kujadikan saran untuk temanku yang sedang marah, kalau dia tidak bisa marah secara elegan (mendoakan orang yang menyebabkannya marah), dia selalu bisa tidur dahulu untuk meredakan emosinya entah karena orang tersebut benar menyebalkan atau memang banyak pikiran saja.

Wallpaper, The Power!



Yang aku percaya, jika mata kita disuguhkan sesuatu entah itu dipaksa/ terpaksa/ tak sengaja, maka pikiran kita akan terstimulasi. Ada unsur menantang di sana, berbahaya atau justru mengantar kita selangkah dua langkah ke tujuan –tapi aku lebih setuju pengaruhnya ada di pilihan kedua. Makanya, aku selalu meletakkan hal baik yang bisa dibaca mataku.

Passport

(dari kiri ke kanan: Ifa-Dyah-Fiya-Intan-Fai)
Jakarta, 8 Juni 2012
Hujan, padahal sudah bulan keenam. Deras dan macet adalah korelasi yang tidak terlalu baik untuk Jumat malam. Aku memandangi butiran-butiran hujan dari dalam mobil seorang rekanan ayah yang menjemputku di bandara, perjalanan konferensi lintas kota pertamaku pasti akan menyenangkan. Saat kubilang belum makan, aku malah diajak makan nasi padang dengan lauk ayam gulai.

Kehendak Tuhan

Grupku yang sebenarnya tidak terlalu sepi itu berdering. Pesan pembukanya terbaca ‘alhamdulillah’ –sama sekali tidak nyambung dengan balasan terima kasihku karena mereka semua mendukungku menuju mimpi yang sudah lama aku letakkan 5 cm di depan mukaku. Kuputuskan membacanya setelah keesokan hari tiba, mendapati kenyataan mereka memindahkan keramaian itu ke comment IG seorang temanku, yang menjadi target.

Penasaran ini membuatku sedikit kelimpungan karena aku tak juga memutuskan meng-install IG di ponselku. Setelah bergelut dengan gadget tua berwarna biru, aku melihat ucapan ulang tahun untuk seseorang yang dilaminating dengan latar belakang air terjun di belahan dunia Brazil. Aku tersenyum lebar sekali, kedua temanku bersatu! Mungkin yang kemudian menjadi iya setelah kupastikan. Begini ya kalau Tuhan sudah berkehendak.

Berbagi, Peduli

"Menurutku, ini adalah awal yang baik tidak ada kata terlambat untuk belajar, dari sekitar.
Sepertinya, aku akan meneruskan secara rutin hal baik yang kuinisiasi sendiri dengan modal nekat ini, walaupun sendiri, tapi rasanya Tuhan akan selalu mengirimkan malaikat sevisi dari segala penjuru untuk mewujudkan niat yang baik."

"Jika kau peduli pada orang lain, Tuhan akan menyelesaikan urusanmu."

"Kenapa repot-repot melaporkan?" | "Karena aku merasa harus transparan, karena ada niat baik di setiap sedekah, karena ini bukan bersumber dariku saja, karena mereka berhak tahu, karena aku ingin membangkitkan semangat sosial dan rasa syukur lebih banyak orang lagi, karena jujur, juara satu!"

"Berbagi, Peduli, selamat datang ke dunia."