Berbagi, Peduli

"Menurutku, ini adalah awal yang baik tidak ada kata terlambat untuk belajar, dari sekitar.
Sepertinya, aku akan meneruskan secara rutin hal baik yang kuinisiasi sendiri dengan modal nekat ini, walaupun sendiri, tapi rasanya Tuhan akan selalu mengirimkan malaikat sevisi dari segala penjuru untuk mewujudkan niat yang baik."

"Jika kau peduli pada orang lain, Tuhan akan menyelesaikan urusanmu."

"Kenapa repot-repot melaporkan?" | "Karena aku merasa harus transparan, karena ada niat baik di setiap sedekah, karena ini bukan bersumber dariku saja, karena mereka berhak tahu, karena aku ingin membangkitkan semangat sosial dan rasa syukur lebih banyak orang lagi, karena jujur, juara satu!"

"Berbagi, Peduli, selamat datang ke dunia."

Cerita Kelas Inspirasi


PROMOSI CERIA
'Harga 60.000, diskon 10%. Keunggulannya, kaosnya dingin dan warnanya tidak luntur. Merek terpercaya.'
Itulah isi pesan promosi baju berwarna separuh merah separuh putih dengan tulisan 'Bali' di tengahnya, dibentangkan paling depan dan paling tinggi.
Hari Senin itu, keadaan kelas sedang berubah. Biasanya belajar IPA/ Matematika, hari itu mereka belajar membuat promosi yang unik sesuai dengan bagian pekerjaan Kak Sitta yang seorang Marketing Communication Officer.
Tidak terbatas di baju, mesin cuci, ponsel, dan sepatu pun tidak luput dari bahan imajinasi mereka, tentu dengan kata-kata lucu ala anak-anak.


INSAN SEPAHAM
Ketika aku menyadari beberapa insan ternyata mendengar mimpiku dan memberiku ruang untuk berkembang, aku tahu bahwa tujuanku sudah dekat.
Aku hanya perlu menemukan mereka-mereka yang lain di perjalanan.

COBA SEKALI, COBA LAGI, COBA TERUS
Mungkin adik gigih ini hanya satu dari sekian anak Indonesia yang berpegang pada prinsip 'Apapun yang dilakukan 10.000 jam pasti berhasil' milik Thomas Alfa Edison.
Sebuah prinsip yang fundamental, karakter bawaan anak Indonesia, yang perlahan ditinggalkan.


(ARAH) RAGUKU
Apalah arti 1000 arahan jika tidak datang dari dalam diri?
Yang kita selalu tahu, inspirasi datang dari hal kecil yang berhasil mengubah enggan menjadi tekad, dan mengubah ragu menjadi mampu.

FOKUS PADA MIMPI
Dokter, pilot, guru, fotografer, dan polisi adalah sebagian dari mimpi-mimpi sederhana yang menghiasi spanduk siang itu.
Tak ada yang malu, semua tampak antusias saat menempelkan 'masa depan'.
Karena kenapa? Karena mereka fokus pada mimpi masing-masing, bukan menghakimi mimpi orang lain :)


TAKJUB
"Adik-adik, ada yang cita-citanya mau seperti Bill Gates? Sukses sekali lho, kaya dan berhasil."
"Siapa itu Bill Gates, Kak?"

ARIL YANG MURAH SENYUM
Aril, siswa kelas 6 SD, bercita-cita sebagai pilot, digambarkan sebagai anak yang usil, nakal, lucu, baik, dan murah senyum oleh teman-temannya -sebagaimana tertulis di sticky notes yang menempel di badannya.
Ari tampak sangat riang dan bersemangat saat bermain game 'Personal Branding.'


CALON PESAWAT MIMPI ABID
Abid tengah sibuk menggambar dunianya saat ini. Ia dan teman-temannya di kelas mendapat tugas inspirasi untuk menggambar diri di waktu sekarang dan akan jadi seperti apa 10 tahun kelak.
Mimpi dengan sentuhan inspirasi yang terukir di kertas itu nanti bersama-sama akan diterbangkan setinggi-tingginya ke angkasa dalam bentuk pesawat lipat.


MENANGIS TANDA BERJUANG
Saat meminta bantuan karena kesulitan menggambar, Emilia malah disoraki 'kurang mandiri' oleh teman-temannya hingga ia pun menangis.
Padahal di sisi lain, sikap Emilia patut dihargai, ia sudah berani menyerukan ketidakpahamannya demi sebuah inspirasi.
Semangat terus Emilia, proses menuju ke puncak, termasuk meraih mimpi, memang berliku :)


CENGRAMA DI SUDUT KELAS
Fungsi pendidik sesungguhnya adalah mendampingi anak murid memilih dunia barunya, dan lalu bersama-sama merangkai kendaraan mimpi itu, mengantarnya sampai tujuan dengan senyuman penuh inspirasi.

SEBUAH DEKLARASI
"Kepada seluruh mata yang menyaksikan, mulai hari ini saya berjanji akan menghargai mimpi-mimpi yang muncul dari benak saya dan membesarkannya menjadi sesuatu yang membanggakan.
Tolong beri saya kepercayaan penuh karena saya selalu percaya dan ingin berkali-kali membuktikan makna kalimat ini: 'Jika kita percaya pada orang lain, ia akan melakukan hal yang mustahil.'
Terima kasih."


SALING MENDOAKAN
Melalui doa upacara pagi itu, ia mendoakan dirinya, teman-temannya, guru, sekolah, dan pendidikan Indonesia agar lebih baik dan bermanfaat, lebih jujur dan peduli, lebih bermoral, bertanggung jawab, dan berperan dalam pewujudan Generasi Bersolusi.

HALO, TAMPANG PAPAN PESAN!
Ditempeli kertas di seluruh badan, bocah ini lebih penasaran dengan komentar-komentar teman terhadapnya dibandingkan seperti apa tampangnya saat itu. Kocak sekali!
Sesi ini menginspirasi adik-adik untuk selalu bersikap sesuai dengan deskripsi apa yang ia harapkan dari orang lain yang berinteraksi dengannya.


STARING A LIMELIGHT
Anak yang beruntung adalah anak yang masih bisa tersenyum ceria bagaimanapun bebannya.
Sementara orang dewasa yang beruntung adalah orang yang turut serta peduli mengembangkan senyum anak negeri.
Terima kasih Kelas Inspirasi! :)

PANEN HARTA KARUN
Kadang ingin jadi pilot, juragan toko beras, punya counter HP China 5 cabang, lalu esoknya ingin jadi profesor. Semakin hari, mimpi semakin menumpuk untuk dikumpulkan.
Tak apa, sungguh tak apa. Mimpi itu harta karun. Meskipun hanya dipendam bertahun-tahun, tetaplah mengumpulkannya. Jangan lupa berlari kecil ke arahnya setiap hari.
Suatu hari, pilihannya hanya ada dua, memanennya dalam bentuk kepuasan batin atau merasakan penyesalan menari-nari.


MENANGISLAH, WILDAN!
Sesi Bu Lusi siang itu diisi dengan mini-ESQ, anak-anak tampak tersedu hingga sesenggukan. Begitu pun Wildan yang sudah tidak kuat menahan air mata mengingat ayah ibunya disebut.
Semoga Wildan dan yang lain akan menjadi pribadi sukses dan berbudi luhur yang tidak pernah melupakan orang tua :)
x

Bandung, 31 Maret (Bapak yang Dikirim Tuhan #2)

Hari itu, di waktu senggang kami di antara sore dan malam, ayah mengabari kawan seperjuangannya di Samarinda dulu –Pak Agus, kebetulan beliau saat ini ditempatkan di Bandung. Semua sedari awal nampak biasa saja, pertemuan teman lama, saling mengenang, dan berkah bagiku karena seperti sudah sewajarnya, kami diajak makan malam.
Menunggu jamuan kami datang, aku mengamati Pak Agus sambil mengikuti arah pembicaraannya walaupun sesekali aku menatap ke langit, berharap ada uang 500 juta jatuh untukku, untuk membantuku menciptakan masa depan yang selalu kusebut dalam doa. Kami diajak makan ke restoran mahal, nasi goreng teri pesananku saja sudah 59k belum dengan pajak, belum yang lain. Totalnya kira-kira 450k untuk 4 orang. Beliau bilang seminggu sekali mungkin beliau ke tempat itu untuk membunuh waktu, maklum, keluarganya tidak bersamanya di Bandung. Kagetnya aku menghitung harga menu-menu yang kami pesan ini menjadi wajar saat menyadari beliau adalah pejabat BUMN. Mobilnya saja bagus, ponselnya iPhone 6. Oke, yang aku bahas ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan materialistik, ini hanya semacam intro.

ParasHati

Aku menulis ini setelah menemukan perwujudan yang tepat. Menurutku (murni menurutku), korelasi paras dan hati dekat sekali. Kalau kau ditanya, kau lebih pilih paras atau hati?

Di Tengah Jalan

“Ya Tuhan, selalu berilah aku hati yang baik untuk memperjuangkan mimpi-mimpiku.”
http://www.imgrum.net/tag/yourcomicstory
Dari beberapa pengalamanku ke belakang, ternyata niat yang kuat saja tidak cukup. Hati yang baik benar-benar diperlukan dalam menggapai mimpi sehingga bagaimanapun hidup menguji kita di awal, di tengah, dan di akhir jalan, kita akan tetap lapang, ikhlas, dan berprasangka baik. Berikut adalah penguat rasa yang sering aku dengungkan, kalau tiba-tiba ingin kembali ke awal, padahal sudah di tengah jalan.
(Segala sesuatu indah pada waktunya)
(Kalau kamu mengeluh, ingat kenapa kamu mulai)
(Kalau mimpi tidak benar-benar besar, lalu apa yang benar-benar diperjuangkan?)
(Kamu orang hebat? Orang hebat tidak akan melarikan diri)
(Perjuangkan mimpi sekarang! Karena jika tidak, ia akan kembali 50 tahun lagi dalam bentuk penyesalan)
(Lebih baik bermimpi besar kemudian gagal, daripada tidak pernah bermimpi kemudian mencapainya)
(Shoot for the moon. Even if you miss, you'll land among the stars)
(Jangan takut kehilangan hal baik, untuk mendapatkan yang terbaik)
(Karena selalu ada tempat dan saat di mana ombak paling tinggi sekalipun akan berbalik arah)
(Kita tidak pernah kalah sampai kita berhenti berusaha)
(Jangan bekerja untuk uang, uang mudah menguap! Bekerjalah/ berkaryalah, untuk sesuatu yang lebih besar dari uang)
(Hello! Rome wasn't built in a day | Roma tidak dibangun dalam waktu 1 hari)

Questions Before Die #2

Maaf ya kalau gambarnya agak vulgar/ mencengangkan.
This is for your information, ada kehidupan kurang layak di luar sana.
Entah setelah ini teman-teman akan lebih bersyukur atau langsung turun tangan,
Tuhan memberkati niat teman-teman :)
Ini kelanjutan dari posting sebelumnya. (Kami) mencoba menjadi pribadi sebaik-baiknya dan berguna bagi orang lain. Kesempatan ini selalu bisa aku dapatkan di hari Sabtu, jadwalku mengajar di dekat terminal Joyoboyo, sebelah Kebun Binatang Surabaya (KBS). Thank you Save Street Child (SSC) Surabaya yang sudah baik sekali memfasilitasiku menjadi salah satu volunteer pengajar. Hari itu menjadi beda karena kami, tim SSC dan adik-adik Joyoboyo, kedatangan kakak-kakak dari Tunas Community yang ingin berbagi. Jadilah Sabtu sore itu diwarnai dengan keseruan yang lebih (susah digambarkan). Yang jelas, ini malam mingguku, mana malam minggumu? #bangga #bahagia #alifeasasocialworker.

Ayo kutunjukkan dunia di luar garis hijaumu, karena bukan tidak mungkin suatu hari dirimu jadi bagian dari kami yang mengabdi pada negeri dengan cara sederhana. Pengalamanku selama ini, aku selalu mendapatkan kebahagiaan batin yang lebih dari mendapat sepatu Nike, buku Hector and The Search of Happiness (original version), atau kacamata baru. Benar sekali kata orang bijak, kebahagiaanmu ada di kebahagiaan orang lain. Entah ya, bagimu yang masih berego tinggi dan memenuhi pikiran dengan hal duniawi, suatu hari di satu kesempatan pasti mengakuinya.

Sore itu dimulai dengan adik-adik riang yang menyambut kami, berlarian siap belajar. Di tangannya ada buku pelajaran yang berisi pekerjaan rumah, akan dikumpulkan hari Seninnya. Ada juga yang menggendong tas kempes, maksudku isinya hanya 2 batang pensil tumpul dan penghapus rompel. Di luar itu semua, niat belajar mereka harus dihargai. Sekali lagi, keceriaan dan kepolosan mereka menggugah hati kami.





Aku buka acara itu dengan ceria. Aku minta seorang untuk memimpin doa mulai aktivitas. Awalnya sulit sekali meminta adik-adik ini bergerak. Namun, setelah mereka dijanjikan hadiah di akhir sesi, mereka berteriak minta ditunjuk. Untuk doa pembuka, mereka akhirnya bersepakat menunjuk dua adik yang mereka sebut sebagai ‘Bapak-Ibu RT’.


“Ayo nyanyi dulu yuk.” 2 kali sesi bernyanyi, aku mengarahkan adik-adik menyanyi lagu 17 Agustus dan Indonesia Raya. Syukurlah mereka ingat lagu kebangsaan itu, mereka menyanyikannya dengan lantang dan senang. Kupikir supir angkot yang kebetulan lewat pasti menoleh ke arah kami karena mendengar suara anak negeri yang bangga akan bangsanya, mudah-mudahan yang mendengar adalah Kepala Dinas Pendidikan/ Dinas Sosial, Menteri Pendidikan/ Sosial, dan Presiden, di lain kesempatan.





Sebelum mulai ke acara belajar bersama kakak-kakak, melihat animo mereka yang meninggi dan antusias, aku lanjutkan kegiatan itu dengan game ringan yang hampir selalu mereka mainkan sesaat sebelum belajar. Namanya kotak pos, game ala-ala anak 90-an, hanya bermodal tangan dan nyanyian saja. “Kotak pos belum diisi..” 98% anak seumurku pasti paham. Cuma, di akhir lagu, sepertinya ada tambahan yang kurang familiar di telingaku. Ceritanya, adik-adik yang tangannya tertepuk setelah lagu selesai dinyanyikan akan diminta maju untuk memperkenalkan diri. Sekali lagi, mereka hampir semua minta ditunjuk, karena sudah tahu di akhir sesi akan ada pembagian hadiah. Lucu sekali, melihat ada yang berteriak melihat respon kawannya yang sangat lambat menepukkan tangannya –mungkin dia ingin sekali dipilih.


Adel adalah adik pertama yang memperkenalkan diri, setelah berusaha setengah mati tepukan terakhir jatuh ke tangannya. “Kenalinnya namanya siapa, kelas berapa, sama cita-citanya apa ya,” kataku memandu.
“Halo, namaku Adel. Aku kelas 6 SD. Cita-citaku apa ya?”
Adel berpikir sangat lama, teman-temannya pun ikut berpikir. Ini mungkin yang membedakan anak-anak pada umumnya dan mereka. Lingkungan yang sehat sudah seharusnya menumbuhkan mimpi dan semangat memperjuangkannya, namun berbeda di sini. Mimpi nanti saja kalau sempat, yang penting perut terisi dan punya material (yang tidak dimiliki sebelumnya).


“Oh ya wes lah, model ae.”
Barulah dia menjawab setelah mencuri dengar beberapa kakak berceletuk. Sebenarnya dia anak yang manis, rambutnya lurus, kulitnya eksotis dan posturnya lumayan tinggi. Tapi, kalau mendengarnya berbicara atau mengamati bersikap, dia termasuk sangat kasar dan lebih seperti preman. Saat kubahas ini dengan temanku, dia bilang memang begitulah caranya mereka hidup. ‘Mereka harus keras karena kehidupan mereka jauh lebih keras.’ Iya juga ya, mereka bertahan dan berjuang sedini mungkin, bekal masa depannya berbeda.
Setelah Citra dari Tunas Community berkenalan dan mengungkapkan keinginannya menjadi profesor, Amel yang berkenalan ini menjadi lebih lancar. “Namaku Amel, kelas 4 SD. Aku mau jadi guru atau profesor.” Kami serentak langsung bertepuk tangan. Sebenarnya anak-anak masih sangat polos dan mudah sekali diarahkan, jika dia melihat role model yang baik, dia akan mengimitasi.


Let’s study with us! Begitu waktunya tiba, mereka membuka buku pelajaran dan memilih kakak-kakaknya yang akan diajak belajar. Seperti aku dan Sofia, hari itu dia memintaku mengajarinya perkenalan bahasa Inggris dan matematika pecahan (yang kebetulan termasuk pelajaran favoritku saat SD). Rasanya puaaaaaaaaas, haruuuu, senaaaaaaang sekali mendengarkan dia akhirnya, setelah 30 menit belajar, jadi mampu memperkenalkan diri mulai dari mengucap salam, menyebutkan nama, umur, tempat tinggal, hingga mau jadi apa jika besar nanti. Sederhana, tapi bahagia. Iya, bahagia itu sederhana. Syukurlah dia menyukai caraku mengajarinya, dia jadi ingin belajar bahasa Inggris lebih dan lebih.





Kulihat kakak-kakak dan adik-adik lain tengah sibuk dengan kegiatan semi belajar. Kadang adik-adik yang bosan bisa berlarian mengganggu atau mencari ketenangan, maksudku menyudahi belajarnya.






Menjelang sore, adik-adik mendapat hadiah yang dijanjikan. Tidak mewah sih, hanya jadi benar-benar mengembangkan senyum di wajah mereka. Aku paham suatu hari mereka akan lupa, kami pun juga, namun acara ini memang tidak untuk diingat, kami mencari kebahagiaan dan kebahagiaan itu kami dapatkan dari senyuman mereka. Yang aku tulis dini hari ini adalah upayaku menyebarkan semangat yang sama pada siapapun yang membacanya. Aku berdoa pada Tuhan semoga kita semua selalu diberi kesempatan untuk membahagiakan diri dan orang lain dengan cara yang positif dan tidak memberatkan diri sendiri.




Mau kuberitahu sesuatu? Kalau susah bahagia, bersamalah menciptakan kebahagiaan orang lain, or simply ikutlah bahagia atas kebahagiaannya.



Special thanks to:
Citra (Tunas Community), Mas Ncing, dan SSC (Mbak Dita dkk) :)

 
biz.