Beruntung

-Beberapa hari setelah 2017 berjalan-

Bandung, 31 Maret (Bapak yang Dikirim Tuhan #2)

Hari itu, di waktu senggang kami di antara sore dan malam, ayah mengabari kawan seperjuangannya di Samarinda dulu –Pak Agus, kebetulan beliau saat ini ditempatkan di Bandung. Semua sedari awal nampak biasa saja, pertemuan teman lama, saling mengenang, dan berkah bagiku karena seperti sudah sewajarnya, kami diajak makan malam.
Menunggu jamuan kami datang, aku mengamati Pak Agus sambil mengikuti arah pembicaraannya walaupun sesekali aku menatap ke langit, berharap ada uang 500 juta jatuh untukku, untuk membantuku menciptakan masa depan yang selalu kusebut dalam doa. Kami diajak makan ke restoran mahal, nasi goreng teri pesananku saja sudah 59k belum dengan pajak, belum yang lain. Totalnya kira-kira 450k untuk 4 orang. Beliau bilang seminggu sekali mungkin beliau ke tempat itu untuk membunuh waktu, maklum, keluarganya tidak bersamanya di Bandung. Kagetnya aku menghitung harga menu-menu yang kami pesan ini menjadi wajar saat menyadari beliau adalah pejabat BUMN. Mobilnya saja bagus, ponselnya iPhone 6. Oke, yang aku bahas ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan materialistik, ini hanya semacam intro.

ParasHati

Aku menulis ini setelah menemukan perwujudan yang tepat. Menurutku (murni menurutku), korelasi paras dan hati dekat sekali. Kalau kau ditanya, kau lebih pilih paras atau hati?

Di Tengah Jalan

“Ya Tuhan, selalu berilah aku hati yang baik untuk memperjuangkan mimpi-mimpiku.”
http://www.imgrum.net/tag/yourcomicstory
Dari beberapa pengalamanku ke belakang, ternyata niat yang kuat saja tidak cukup. Hati yang baik benar-benar diperlukan dalam menggapai mimpi sehingga bagaimanapun hidup menguji kita di awal, di tengah, dan di akhir jalan, kita akan tetap lapang, ikhlas, dan berprasangka baik. Berikut adalah penguat rasa yang sering aku dengungkan, kalau tiba-tiba ingin kembali ke awal, padahal sudah di tengah jalan.
(Segala sesuatu indah pada waktunya)
(Kalau kamu mengeluh, ingat kenapa kamu mulai)
(Kalau mimpi tidak benar-benar besar, lalu apa yang benar-benar diperjuangkan?)
(Kamu orang hebat? Orang hebat tidak akan melarikan diri)
(Perjuangkan mimpi sekarang! Karena jika tidak, ia akan kembali 50 tahun lagi dalam bentuk penyesalan)
(Lebih baik bermimpi besar kemudian gagal, daripada tidak pernah bermimpi kemudian mencapainya)
(Shoot for the moon. Even if you miss, you'll land among the stars)
(Jangan takut kehilangan hal baik, untuk mendapatkan yang terbaik)
(Karena selalu ada tempat dan saat di mana ombak paling tinggi sekalipun akan berbalik arah)
(Kita tidak pernah kalah sampai kita berhenti berusaha)
(Jangan bekerja untuk uang, uang mudah menguap! Bekerjalah/ berkaryalah, untuk sesuatu yang lebih besar dari uang)
(Hello! Rome wasn't built in a day | Roma tidak dibangun dalam waktu 1 hari)

Young on Top Surabaya!

Isn't that sweet? Really glad to be part of such a nice team! :)

Questions Before Die #2

Maaf ya kalau gambarnya agak vulgar/ mencengangkan.
This is for your information, ada kehidupan kurang layak di luar sana.
Entah setelah ini teman-teman akan lebih bersyukur atau langsung turun tangan,
Tuhan memberkati niat teman-teman :)
Ini kelanjutan dari posting sebelumnya. (Kami) mencoba menjadi pribadi sebaik-baiknya dan berguna bagi orang lain. Kesempatan ini selalu bisa aku dapatkan di hari Sabtu, jadwalku mengajar di dekat terminal Joyoboyo, sebelah Kebun Binatang Surabaya (KBS). Thank you Save Street Child (SSC) Surabaya yang sudah baik sekali memfasilitasiku menjadi salah satu volunteer pengajar. Hari itu menjadi beda karena kami, tim SSC dan adik-adik Joyoboyo, kedatangan kakak-kakak dari Tunas Community yang ingin berbagi. Jadilah Sabtu sore itu diwarnai dengan keseruan yang lebih (susah digambarkan). Yang jelas, ini malam mingguku, mana malam minggumu? #bangga #bahagia #alifeasasocialworker.

Ayo kutunjukkan dunia di luar garis hijaumu, karena bukan tidak mungkin suatu hari dirimu jadi bagian dari kami yang mengabdi pada negeri dengan cara sederhana. Pengalamanku selama ini, aku selalu mendapatkan kebahagiaan batin yang lebih dari mendapat sepatu Nike, buku Hector and The Search of Happiness (original version), atau kacamata baru. Benar sekali kata orang bijak, kebahagiaanmu ada di kebahagiaan orang lain. Entah ya, bagimu yang masih berego tinggi dan memenuhi pikiran dengan hal duniawi, suatu hari di satu kesempatan pasti mengakuinya.

Sore itu dimulai dengan adik-adik riang yang menyambut kami, berlarian siap belajar. Di tangannya ada buku pelajaran yang berisi pekerjaan rumah, akan dikumpulkan hari Seninnya. Ada juga yang menggendong tas kempes, maksudku isinya hanya 2 batang pensil tumpul dan penghapus rompel. Di luar itu semua, niat belajar mereka harus dihargai. Sekali lagi, keceriaan dan kepolosan mereka menggugah hati kami.





Aku buka acara itu dengan ceria. Aku minta seorang untuk memimpin doa mulai aktivitas. Awalnya sulit sekali meminta adik-adik ini bergerak. Namun, setelah mereka dijanjikan hadiah di akhir sesi, mereka berteriak minta ditunjuk. Untuk doa pembuka, mereka akhirnya bersepakat menunjuk dua adik yang mereka sebut sebagai ‘Bapak-Ibu RT’.


“Ayo nyanyi dulu yuk.” 2 kali sesi bernyanyi, aku mengarahkan adik-adik menyanyi lagu 17 Agustus dan Indonesia Raya. Syukurlah mereka ingat lagu kebangsaan itu, mereka menyanyikannya dengan lantang dan senang. Kupikir supir angkot yang kebetulan lewat pasti menoleh ke arah kami karena mendengar suara anak negeri yang bangga akan bangsanya, mudah-mudahan yang mendengar adalah Kepala Dinas Pendidikan/ Dinas Sosial, Menteri Pendidikan/ Sosial, dan Presiden, di lain kesempatan.





Sebelum mulai ke acara belajar bersama kakak-kakak, melihat animo mereka yang meninggi dan antusias, aku lanjutkan kegiatan itu dengan game ringan yang hampir selalu mereka mainkan sesaat sebelum belajar. Namanya kotak pos, game ala-ala anak 90-an, hanya bermodal tangan dan nyanyian saja. “Kotak pos belum diisi..” 98% anak seumurku pasti paham. Cuma, di akhir lagu, sepertinya ada tambahan yang kurang familiar di telingaku. Ceritanya, adik-adik yang tangannya tertepuk setelah lagu selesai dinyanyikan akan diminta maju untuk memperkenalkan diri. Sekali lagi, mereka hampir semua minta ditunjuk, karena sudah tahu di akhir sesi akan ada pembagian hadiah. Lucu sekali, melihat ada yang berteriak melihat respon kawannya yang sangat lambat menepukkan tangannya –mungkin dia ingin sekali dipilih.


Adel adalah adik pertama yang memperkenalkan diri, setelah berusaha setengah mati tepukan terakhir jatuh ke tangannya. “Kenalinnya namanya siapa, kelas berapa, sama cita-citanya apa ya,” kataku memandu.
“Halo, namaku Adel. Aku kelas 6 SD. Cita-citaku apa ya?”
Adel berpikir sangat lama, teman-temannya pun ikut berpikir. Ini mungkin yang membedakan anak-anak pada umumnya dan mereka. Lingkungan yang sehat sudah seharusnya menumbuhkan mimpi dan semangat memperjuangkannya, namun berbeda di sini. Mimpi nanti saja kalau sempat, yang penting perut terisi dan punya material (yang tidak dimiliki sebelumnya).


“Oh ya wes lah, model ae.”
Barulah dia menjawab setelah mencuri dengar beberapa kakak berceletuk. Sebenarnya dia anak yang manis, rambutnya lurus, kulitnya eksotis dan posturnya lumayan tinggi. Tapi, kalau mendengarnya berbicara atau mengamati bersikap, dia termasuk sangat kasar dan lebih seperti preman. Saat kubahas ini dengan temanku, dia bilang memang begitulah caranya mereka hidup. ‘Mereka harus keras karena kehidupan mereka jauh lebih keras.’ Iya juga ya, mereka bertahan dan berjuang sedini mungkin, bekal masa depannya berbeda.
Setelah Citra dari Tunas Community berkenalan dan mengungkapkan keinginannya menjadi profesor, Amel yang berkenalan ini menjadi lebih lancar. “Namaku Amel, kelas 4 SD. Aku mau jadi guru atau profesor.” Kami serentak langsung bertepuk tangan. Sebenarnya anak-anak masih sangat polos dan mudah sekali diarahkan, jika dia melihat role model yang baik, dia akan mengimitasi.


Let’s study with us! Begitu waktunya tiba, mereka membuka buku pelajaran dan memilih kakak-kakaknya yang akan diajak belajar. Seperti aku dan Sofia, hari itu dia memintaku mengajarinya perkenalan bahasa Inggris dan matematika pecahan (yang kebetulan termasuk pelajaran favoritku saat SD). Rasanya puaaaaaaaaas, haruuuu, senaaaaaaang sekali mendengarkan dia akhirnya, setelah 30 menit belajar, jadi mampu memperkenalkan diri mulai dari mengucap salam, menyebutkan nama, umur, tempat tinggal, hingga mau jadi apa jika besar nanti. Sederhana, tapi bahagia. Iya, bahagia itu sederhana. Syukurlah dia menyukai caraku mengajarinya, dia jadi ingin belajar bahasa Inggris lebih dan lebih.





Kulihat kakak-kakak dan adik-adik lain tengah sibuk dengan kegiatan semi belajar. Kadang adik-adik yang bosan bisa berlarian mengganggu atau mencari ketenangan, maksudku menyudahi belajarnya.






Menjelang sore, adik-adik mendapat hadiah yang dijanjikan. Tidak mewah sih, hanya jadi benar-benar mengembangkan senyum di wajah mereka. Aku paham suatu hari mereka akan lupa, kami pun juga, namun acara ini memang tidak untuk diingat, kami mencari kebahagiaan dan kebahagiaan itu kami dapatkan dari senyuman mereka. Yang aku tulis dini hari ini adalah upayaku menyebarkan semangat yang sama pada siapapun yang membacanya. Aku berdoa pada Tuhan semoga kita semua selalu diberi kesempatan untuk membahagiakan diri dan orang lain dengan cara yang positif dan tidak memberatkan diri sendiri.




Mau kuberitahu sesuatu? Kalau susah bahagia, bersamalah menciptakan kebahagiaan orang lain, or simply ikutlah bahagia atas kebahagiaannya.



Special thanks to:
Citra (Tunas Community), Mas Ncing, dan SSC (Mbak Dita dkk) :)

Questions Before Die #1


“Have you found joy in your life?
Has your life brought joy to others?”

Good = Good

“When you wish good for others, good things come back to you.
This is the law of nature.” – Sri Sri Ravi Shankar

Belakangan aku jadi sangat suka kalimat ini. Kalau dianalisis lebih dalam, sepertinya hukum ini bekerja dengan sangat baik di sekitarku. Mari, kuceritakan tentang sosok yang berhasil membahagiakan dirinya sendiri karena kurasa sangat paham mengenai hukum ini. Membahagiakan dirinya sendiri? Dilihat dari mana? Kukatakan di awal, ini adalah murni analisisku saja, dibuktikan dengan perlakuannya kepadaku (sebagai contoh). Pertemuan yang sangat singkat namun sampai hari ini aku yakin sekali, beliau adalah orang yang bahagia.