Jeruk dan Kulitnya

Maaf tidak punya gambar jeruk, yang oranye-hijau saja ya~

"Memang lulusan mana dia? Kok bisa keterima?"

Aku tidak bermaksud mendengarkan, tapi terdengar secara tidak sengaja walaupun aku sedang menggunakan headset. Aku langsung mematikan lagunya agar jadi lebih fokus mendengarkan.

Semakin kudengarkan, hatiku menjadi semakin sakit. Aku yang pura-pura mendengarkan lagu ini kemudian izin pergi ke luar, mengisi botol minum. 

Aku kenal siapa yang dibicarakan, aku bekerja bersamanya beberapa pekan. Untuk ukuran anak baru, dia sangat berjuang. Aku yang berkali-kali ditanya soal pekerjaan ini malah salut kepadanya, aku tidak bisa membayangkan jika ada di posisinya.

Saat misi botol minumku rampung, aku tidak langsung kembali ke ruangan. Aku mengambil waktu berdiskusi dengan pikiranku di dekat jendela besar.

Apa tidak terlalu terburu-buru melabeli orang akan seperti apa jika hanya melihat dari kemasan luarnya? Lalu kesempatan-kesempatannya hilang. Jika ditanya, dia mungkin juga ingin bersekolah di tempat yang jauh lebih bergengsi tapi terbentur kondisi. Uang sekolah yang sangat mahal, tidak ada restu orang tua jika harus berpisah sehari-hari, sampai hanya punya sedikit informasi tentang bersekolah jurusan apa, di mana, dan mau jadi apa -itu semua bisa jadi faktor. Sayangnya tidak semua orang seberuntung sebagian orang yang lain.

Dapat apa setelah menghakimi orang seperti itu? Kepuasan? Malah aku yang tersulut. Hahaha, begitu menyadarinya, aku buru-buru minum dan menarik nafas. Karena sangat paham kondisi yang dialami anak itu, aku tidak terlalu suka menilai orang dari kemasan luarnya, termasuk bersekolah di mana. Kalau memang harus memberikan penilaian, aku akan luangkan waktu untuk mendengarkan ceritanya, mencari tahu lebih dari itu. Dan penilaian subjektifku ini pun tidak akan valid karena seharusnya grafiknya linier dengan waktu yang dihabiskan bersama.

Detik ini aku bisa bilang, walaupun dalam hati, "Jelaslah dia diterima, kerjanya bagus sekali, regardless lulusan mana. Dia dengan kemampuannya, yang aku setuju, pasti berhasil meyakinkan interviewernya."

Semua keputusan/ pilihan orang itu ada pertimbangannya. Keputusan/ pilihan orang pada akhirnya membentuk banyak kemasan luarnya -entah sudah diterima dari awal atau ternyata butuh waktu. Sekolah di mana, kendaraan apa yang dibawa, sebutkan apa lagi.

Semakin besar, aku belajar bahwa kulit jeruk yang kusut/ tidak seindah biasanya tidak selalu  berkorelasi dengan kadar kemanisannya. Semakin besar, aku belajar bahwa sebenarnya yang dibutuhkan adalah menghilangkan penghakiman di awal yang bermuara pada kesempatan.

My Instagram