Acara


“Ruangannya dipakai mungkin.” │”Rasanya nggak.” │ “Sempat terpikir nggak, kenapa ruangan itu mungkin nggak lagi dipinjamkan?” │ “Apa?” │ “Kalau ada acara selalu molor, kasihan petugasnya, ini khan bukan hari kerja.” │ “.....Kata siapa?” │ “Petugasnya sendiri yang bilang, ke aku.”

Obrolanku dengan Rofik hari itu banyak benarnya, mengapa kegiatan sampai harus tak beruang di fakultas sendiri, mengapa kegiatan luar biasa dan terapresiasi baik harus berbatas waktu, ya mungkin memang itu alasannya, ‘pasti molor’, lalu berimbas pada apapun tentang acaranya.

Lalu, salah siapa? Mau tidak mau, ini adalah kesalahan panitia, mereka berjanji pinjam ruang hingga pukul X lalu eksekusinya Y atau mungkin Z. Lebih spesifik lagi, ini adalah tanggung jawab Sie. Acara, sang pengatur waktu. Banyak yang bilang menjadi Sie. Acara itu fun, tapi tak sedikit yang menyandangnya sebagai beban. Beban datang ketika tidak berhasil membayangkan konsep dan berlarut-larut sehingga eksekusi gagal dan terkesan seadanya.

Well, pernah jadi Sie. Acara? Bertahun-tahun hidup sebagai Sie. Acara dan berkaca pada event nasional sukses yang hanya punya 3 orang Sie. Acara, membuatku mengerti banyak cases seputar acara dan merangkumnya dalam beberapa tips berikut.

Detail dalam Petunjuk Teknis
Petunjuk teknis adalah tabel sangat detail berisi tahapan acara, waktu, PJ (penanggung jawab), panitia yang terlibat, dan teknis/ keterangan. Sementara rundown berupa cerita pendeknya. Hal yang harus digarisbawahi di sini adalah detail, banyak kegiatan yang menjadikan juknis hanya sebagai persyaratan ─yang penting ada, padahal kunci kegiatanmu ada di teknis, dan padahal mungkin tidak semua panitia mendengar briefing suatu pagi.
Untuk mendapatkan detail, pembuat juknis harus berkonsentrasi penuh, membayangkan dirinya berada pada hari H. Teknis/ keterangan akan lebih banyak berisi upaya pencegahan prediksi. Misalnya acara yang pesertanya banyak sedangkan waktu registrasi bersih hanya 15 menit,  ‘KSK : peserta dilayani cepat, setelah ttd menunjukkan KTM, bagi 2 absensi’, atau acara tersebut menampilkan galeri mini, ‘Panitia (sebut nama) jaga barang tetap tertata dan tidak iseng diambil peserta’.
Juknis bukan lagi menulis jobdesc standar tiap panitia (misal Panitia X : ON), karena dari awal mereka pun tahu harus apa. Sekali lagi, tekankan pada upaya pencegahan kemungkinan, itulah juknis.

Pintar Membagi Waktu
Kualitas Sie. Acara biasanya ditentukan oleh dua hal, alokasi waktu dan konsep. Memang, acara mundur adalah sesuatu yang wajar, namun sebaiknya dihindari dan sedapat mungkin dikendalikan. Untuk acara yang melibatkan orang banyak, lebihkan waktu hingga kisaran 15 menit karena menggerakkan banyak orang membutuhkan waktu.
Jika ada bagian acara yang mengharuskan mengundang orang penting (sambutan/ pengisi materi), terus pantau konfirmasinya dari H-1 hingga 2 jam sebelum acara. Orang penting biasanya punya schedule mendadak yang akan mengubah prioritas. Lebihkan waktu 3-5 menit untuk upaya pemanggilan, wajib sertakan satu orang PJ yang bertanggung jawab atas kehadiran/ kedatangannya.

Siapkan 2 Plan
At least, siapkan 2 plan. Apapun bisa terjadi dalam sebuah kegiatan, baik kecil maupun besar, sematang apapun persiapan. Sie. Acara menang dalam urusan prediksi. Seandainya prediksinya salah, prediksi lain yang muncul. Variasi plan dapat berupa pengurangan waktu istirahat, perubahan susunan acara, atau ada/tidaknya ice breaking. Ini sangat membantu dalam pernyataan ‘Acaramu boleh molor di awal, tapi nggak boleh molor di akhir’ atau ‘Acaramu harus jalan, yang penting nggak dibatalin.’

Konsep Matang
Poin ini harus membawa ingatan kembali pada pertanyaan ‘Untuk apa kegiatan ini diadakan?’ Sie. Acara wajib sekali punya pikiran anti biasa-biasa saja. Jika kegiatan yang sedang diusung adalah kegiatan baru, buatlah kegiatan ini menginspirasi siapapun untuk mengadakannya lagi di kemudian hari, setidaknya meniru konsepnya. Jika kegiatan ini adalah kegiatan rutin/ tahunan, buatlah inovasi.
Pada intinya, membuat kegiatan itu harus menyenangkan setidaknya dua pihak, peserta dan panitia, sehingga kegiatannya akan dikenang kemudian. Upayanya bisa saja ditambahkan acara inspiratif seperti sharing/ charity, pemilihan pengisi materi yang menguatkan suasana, berpikir dan membayangkan diri sebagai peserta sehingga acara menjadi lebih ‘merakyat’. Nah, untuk ini, Sie. Acara dituntut untuk banyak ide. Mungkin mengikuti acara serupa di tempat lain atau banyak berbincang seputar acara yang baik akan menambah wawasan.

Memang di Belakang Panggung
Jauhkan pemikiran bahwa Sie. Acara adalah panitia paling penting/ paling terkenal. Semua yang terjadi dalam kegiatan Sie. Acara adalah sebuah konsekuensi dan wewenang. Untuk menjadi MC/ orang berpengaruh dalam kepanitiaan, tidak perlu melulu berorientasi pada Sie. Acara, ini adalah pemikiran yang salah. Jika kita memang berbakat, hal seperti itu akan datang dengan sendirinya, panitia apapun kita.
Sesungguhnya Sie. Acara sibuk di belakang panggung. Sie. Acara akan menjadi time keeper, koordinator lapangan, penjemput pemateri, pembuat petunjuk teknis, pembuat konsep, dll. Jika berpikir bahwa Sie. Acara adalah yang terdepan, maka acara tidak akan tereksekusi maksimal karena mereka jadi mementingkan dirinya sendiri.

Ambil Sisi Positif
Kadang apa yang direncanakan tak selalu sesuai. Tidak perlu merasa gagal lantas kecewa, hal inilah yang sering membuat Sie. Acara tidak betah untuk tetap menjadi Sie. Acara bagi acara yang lain. Niat yang baik adalah permulaan yang baik untuk berkarya lebih ikhlas dan total. Ingat, Sie. Acara tidak sendirian, mereka punya panitia-panitia lain yang kerjanya berkorelasi, semua sama pentingnya, semuanya akan bersolusi. Jadi, untuk apa merasa takut? (intan)

My Instagram