Di Tengah Jalan

“Ya Tuhan, selalu berilah aku hati yang baik untuk memperjuangkan mimpi-mimpiku.”
http://www.imgrum.net/tag/yourcomicstory
Dari beberapa pengalamanku ke belakang, ternyata niat yang kuat saja tidak cukup. Hati yang baik benar-benar diperlukan dalam menggapai mimpi sehingga bagaimanapun hidup menguji kita di awal, di tengah, dan di akhir jalan, kita akan tetap lapang, ikhlas, dan berprasangka baik. Berikut adalah penguat rasa yang sering aku dengungkan, kalau tiba-tiba ingin kembali ke awal, padahal sudah di tengah jalan.
(Segala sesuatu indah pada waktunya)
(Kalau kamu mengeluh, ingat kenapa kamu mulai)
(Kalau mimpi tidak benar-benar besar, lalu apa yang benar-benar diperjuangkan?)
(Kamu orang hebat? Orang hebat tidak akan melarikan diri)
(Perjuangkan mimpi sekarang! Karena jika tidak, ia akan kembali 50 tahun lagi dalam bentuk penyesalan)
(Lebih baik bermimpi besar kemudian gagal, daripada tidak pernah bermimpi kemudian mencapainya)
(Shoot for the moon. Even if you miss, you'll land among the stars)
(Jangan takut kehilangan hal baik, untuk mendapatkan yang terbaik)
(Karena selalu ada tempat dan saat di mana ombak paling tinggi sekalipun akan berbalik arah)
(Kita tidak pernah kalah sampai kita berhenti berusaha)
(Jangan bekerja untuk uang, uang mudah menguap! Bekerjalah/ berkaryalah, untuk sesuatu yang lebih besar dari uang)
(Hello! Rome wasn't built in a day | Roma tidak dibangun dalam waktu 1 hari)

Kalau mungkin orang di luar sana punya kepedulian lebih dan bertanya kesibukannya apa sekarang? Mungkin aku akan lebih sering menjawab ‘sedang menghabiskan jatah gagal.’ Kenapa? Ada yang salah? Harusnya tidak ya, karena jawabanku barusan adalah alternatif dari jawaban ‘di tengah jalan.’ Sebagai seorang manusia biasa, aku tidak begitu saja tegar saat diuji Tuhan. Positifnya, Tuhan sayang sekali padaku, makanya aku sering sekali diberi ujian. Seperti saat ini, mungkin beberapa kali rasanya aku ingin berhenti saja, kembali ke zona nyaman, jadi anak manis baik-baik yang takut lututnya lecet. Akan tetapi, kalau akhirnya sadar saat ini aku sedang di tengah jalan, justru bangga sekali.
Bayangkan saja aku sedang bermimpi berfoto selfie di bulan. Saat awal aku bicarakan niatku ini saja, teman-teman pasti akan menertawakan. Belum lagi jika dirinci, aku harus membeli roket, belajar pakai baju astronot, belajar teknik hidup di tempat tanpa oksigen, meyakinkan ayah ibuku untuk tidak menangis, dll. Adalah pengorbanan yang sangat besar, di awal, apalagi mendengar tawa orang-orang yang bernada mencibir, tanpa dukungan sama sekali. Singkat cerita, aku sudah melakukan itu semua. Aku sudah berada di tengah jalan. Tiba-tiba, meteroid yang lebih berat dari bola bowling menghantam roketku. Roketku oleng tapi syukurlah tidak sampai jatuh. Ya, aku manusia biasa. Walaupun aku paham betul aku tidak kekurangan apapun (aku bawa stok oksigen antihabis, teknik bertahan hidup sudah aku kuasai, persediaan makanan berlimpah, foto idolaku Towa Asakura juga selalu menemani), ada satu sisi diriku yang kemudian menjadi sangat gugup, sedih, tidak percaya diri. Bagaimana nasibku selanjutnya? Sebentar lagi aku pasti mati! Ini baru satu, setelah ini pasti lebih banyak benda-benda asing tak bertanggung jawab yang tak paham niat tulusku. Aku tidak bisa membayangkan roketku akan rusak dan terseret ke blackhole. Aku akan hilang selamanya! Pengorbananku, tidaaaaaak! Lebih baik aku jadi anak manis yang keluar rumah 30 cm saja sudah pakai payung renda.
Setelah dihantam benda lain yang lebih kecil, pikiranku mengajakku ke dunia lain yang bisa dipikirkan. ‘Aku sedang di tengah jalan.’ Kenapa tidak berpikir seperti ini: siapa tahu satu kilometer lagi aku sampai. Nanti kalau sudah sampai, aku akan ambil 3.000 foto terkeren sepanjang masa, beberapanya ada yang mengibarkan bendera Indonesia dan membentangkan spanduk I LOVE INDONESIA. Di saat itu, aku akan melihat instagramku banjir likes dan followers. Aku yang beranjak jauh lebih hebat dari aku yang duduk berandai, apalagi aku sudah mengorbankan hal yang sangat besar. Misalnya, roketku. Mahal sekali dia! Tabungan beasiswaku sedari kecil saja belum bisa membelinya. Ada investasi tanpa bunga dari ayah ibuku di dalamnya, makanya aku bisa membeli roket irit bahan bakar dengan suara desing yang sangat minim. Mulus, warnanya biru dan silver. AKU TAHU PASTI AKU SEDANG DI TENGAH JALAN, KALAU AKU BALIK LAGI, AKU MAU JADI APA? Aku harus menyelesaikan apa yang sudah aku mulai. Kalau aku mengeluh, aku harus ingat seperti apa perjuanganku di awal dan untuk apa aku memulai semua ini. Kalau aku tidak mendapatkan, berarti itu bukan akhirnya, itu bukan rezekiku dan Tuhan pasti menggantinya dengan yang lebih baik. Aku berfokus pada proses, bukan hasilnya. Jika memang benar aku akan terseret ke blackhole dan selamanya tidak ditemukan sebelum namaku berhasil menjadi nama sebuah jalan/ ruangan, it’s okay, aku mati/ hilang dalam kebahagiaan karena telah memperjuangkan apa yang aku cita-citakan. Ini murni tentang aku, tidak ada hubungannya dengan orang lain. Karena ini hidupku, karena hidupku cuma sekali, aku akan menjadi versi terbaikku dan aku akan membuat kisah seru yang beda dengan orang kebanyakan. Hidup selamanya di zona nyaman pun sebenarnya benar, tapi rasanya itu bukan aku. 



NB: Tulisan ini suatu hari akan dibaca lagi oleh penulisnya (Ni Putu Intan Sawitri Wirayani), dalam kenyataan dirinya sudah berhasil memperjuangkan mimpi dan kemudian diberi Tuhan banyak bonus kebahagiaan baik untuk dirinya maupun untuk diteruskan. Aamiin, tat astu swaha.

My Instagram